Menurut WHO, menghirup SO2 dalam waktu singkat dan konsentrasi tinggi dapat mengganggu fungsi paru-paru, terutama pada penderita asma. Sedangkan, dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan karena korelasi dan bukti yang belum konsisten. Namun, dipercaya hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian.

Selain itu, emisi SO2 yang menaikkan konsentrasi gas ini di udara menyebabkan pembentukan oksida sulfur lainnya yaitu SOx. SOx dapat bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer untuk membentuk partikel kecil.

Partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan dan juga menyebabkan kabut yang mengganggu jarak pandang. Lebih lanjut, endapan partikelnya juga dapat menodai dan merusak batu atau bahan solid lainnya.

Pada konsentrasi tinggi, SOx berbentuk gas dapat membahayakan pohon dan tanaman dengan merusak dedaunan dan mengurangi pertumbuhan. Gas ini juga dapat berkontribusi terhadap hujan asam yang dapat membahayakan ekosistem yang sensitif.

Fenomena naiknya konsentrasi SO2 ini kini bisa dilihat langsung dari kasus Gunung Anak Krakatau yang hingga Selasa (8/9/2026) masih erupsi.