Secara keseluruhan, Mentan memastikan ketersediaan beras nasional diperkirakan berkisar 25 juta ton. Ia merinci, stok di Bulog saat ini sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton.

"Totalnya berkisar sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ungkap Amran.

Swasembada beras tanpa impor menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Pemerintah tidak ingin Indonesia terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain, terlebih ketika konflik dan ketegangan antarnegara dapat sewaktu-waktu mengganggu perdagangan internasional.

"Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," tegas Amran.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian terus memperkuat berbagai program strategis, mulai dari optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian.

Langkah antisipasi juga terus dilakukan untuk menghadapi ancaman perubahan iklim dan potensi kekeringan agar produksi pangan tetap terjaga.

Amran menekankan akan terus memperkuat produksi dalam negeri, memastikan cadangan pangan tersedia, dan melindungi petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.