NADIKABAR.COM — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menekankan pentingnya memberikan ruang kepada anak untuk berpartisipasi dan menyampaikan masukan terhadap pembangunan di desa.
"Anak-anak perlu diberikan ruang untuk berpartisipasi dan menyampaikan masukan terhadap pembangunan di desa masing-masing. Kita perlu mendengarkan langsung suara anak karena persoalan yang dianggap penting oleh orang dewasa belum tentu sama dengan apa yang menjadi keresahan anak. Begitu pula dengan solusi yang ditawarkan, perlu mempertimbangkan perspektif dan kebutuhan anak agar tepat sasaran. Anak juga memiliki peran sebagai pelapor dan pelopor," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Hal itu dikatakannya saat kunjungan kerja di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Ia mengatakan KemenPPPA melalui Forum Anak telah menjaring aspirasi anak melalui Suara Anak Indonesia yang bertujuan mendorong anak untuk berani menyampaikan pandangan dan kebutuhan mereka.
Menurutnya, Suara Anak Indonesia dijaring secara berjenjang mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Di tingkat nasional, aspirasi tersebut dirumuskan menjadi 12 rekomendasi anak yang disampaikan langsung kepada kementerian terkait.
Pihaknya berharap hal yang sama juga dilakukan di daerah, yakni suara anak disampaikan langsung kepada dinas terkait, dengan pendampingan dari dinas yang menangani pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di tingkat kabupaten/kota, agar pembangunan daerah tetap memperhatikan kepentingan anak.
"Dari aspirasi yang disampaikan oleh anak-anak, bullying, dan berbagai kasus kekerasan yang terjadi pada anak saat ini menjadi perhatian kita semua. Namun, jika ditarik ke akar permasalahannya, fondasi pencegahan ada di dalam keluarga. Saya yakin, apabila keluarga memberikan pengasuhan yang berkualitas dan baik, anak-anak tidak akan melakukan bullying maupun kekerasan kepada siapa pun. Ini menjadi kepedulian dan perhatian kita bersama," kata Arifah Fauzi.
Lebih lanjut, Arifah Fauzi menegaskan bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu, tetapi tanggung jawab bersama ayah dan ibu.
Ia pun menyoroti masih tingginya fenomena fatherless di Indonesia, yakni anak yang kurang mendapat kehadiran sosok ayah.
"Anak kini hampir 24 jam bersama gawai, jauh lebih lama dibandingkan waktunya bersama orang tua, sementara banyak orang tua tidak mengetahui apa yang ditonton anaknya. Anak perlu dibentengi dengan nilai-nilai budi pekerti dan empati," kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.