"Upacara adat ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam melestarikan tradisi budaya yang rutin diselenggarakan masyarakat. Lewat prosesi adat, warga juga memanjatkan doa atas kesehatan, nikmat hidup dan hasil panen yang melimpah," kata Dian.

Menariknya, denyut pelestarian ini tidak berhenti saat bulan Maulid usai. Dian mencatat bahwa gairah serupa biasanya kembali muncul di desa-desa yang memiliki situs budaya saat menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

"Kami berharap konsistensi penyelenggaraan tradisi ini membuat warisan sejarah dan kearifan lokal Tatar Galuh Ciamis tetap terjaga sekaligus menjadi penguat identitas kebudayaan daerah," pungkasnya.

Berikut adalah potret ragam tradisi budaya di Kabupaten Ciamis yang rutin mewarnai bulan Rabiul Awal:

Di Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, warga berkumpul di kawasan Makam Keramat Pangeran Undakan Kalangsari untuk ritual Nelesan. Nama tradisi ini diambil dari kata neles yang berarti membasahi atau membersihkan. Secara fisik, mereka membersihkan benda-benda pusaka peninggalan sesepuh, namun secara batin, ini adalah pengingat untuk menyucikan hati dari penyakit riya dan kesombongan.

Prosesinya sangat sakral. Tokoh adat mengambil air dari tiga sumber mata air-Cibarani, Cikahuripan, dan Cikamalang-menggunakan lodong bambu. Air inilah yang digunakan untuk membasuh puluhan pusaka sebelum akhirnya disimpan kembali. Suasana biasanya ditutup dengan pementasan seni yang meriah.

Setiap Maulid, Situs Jambansari atau Keraton Selagangga menjadi pusat perhatian. Di sini, benda-benda bersejarah seperti keris, pedang, dan tombak milik Museum Galuh Pakuan dikeluarkan untuk dijamasi. Dahulu, ritual ini bersifat tertutup bagi kalangan keturunan kerajaan saja, namun kini masyarakat umum bisa menyaksikannya.