Pusaka peninggalan Bupati RAA Kusumadiningrat dibersihkan menggunakan air dari tujuh mata air berbeda. Selain untuk mencegah kerusakan logam akibat usia, Jamasan membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kebersihan lahir dan batin bagi setiap manusia.

Nyangku mungkin menjadi salah satu tradisi paling ikonik di Ciamis. Ritual pembersihan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora ini diawali dengan arak-arakan megah dari Bumi Alit menuju Nusa Gede, sebelum akhirnya dibawa ke Alun-alun Panjalu.

Menggunakan air Cai Karomah Tirta Kahuripan dari tujuh mata air, prosesi ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada sang prabu yang membawa ajaran Islam, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi yang selalu dipadati pengunjung dari berbagai penjuru negeri.

Di Desa Ciparigi, Kecamatan Sukadana, masyarakat menjaga tradisi Merlawu sebagai bentuk takzim kepada para penyebar agama Islam. Berpusat di Situs Ciluncat, tradisi ini menghubungkan memori kolektif warga dengan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Haji Tanjung Karawang, Cacaraga, dan Surajaya yang jejaknya abadi di tanah Galuh.

Situs Kabuyutan Gandoang di Desa Wanasigra menjadi saksi bisu tradisi Merlawu yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Jawa Barat. Ritual ini didedikasikan sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan penghormatan kepada Syekh Padamatan.

Rangkaiannya dimulai dengan Ngarangki atau mengganti pagar makam, disusul Nyiraman benda pusaka. Malam sebelum puncak acara, pawai obor biasanya berkeliling desa. Tradisi ini ditutup dengan tawasul dan makan bersama di area situs, sebuah momen hangat yang mempererat tali persaudaraan antarwarga.