NADIKABAR.COM — Kita mengajari anak mencuci tangan sebelum makan. Tetapi sudahkah kita membiasakannya memeriksa informasi sebelum membagikan? Kita mengingatkan pentingnya menjaga tubuh. Seberapa sering kita membicarakan apa yang setiap hari masuk ke dalam pikiran melalui layar telepon?

Pertanyaan itu menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan kita. Ada keluarga yang duduk semeja, tetapi masing-masing sibuk dengan dunianya. Ada orang yang begitu fasih menanggapi persoalan jauh, tetapi tidak mengetahui kesulitan tetangganya. Hubungan digital meluas, sementara kesempatan untuk saling mendengar justru menyempit.

Ruang digital tentu memberi banyak manfaat. Pengetahuan terbuka, kreativitas menemukan penonton, dan warga memperoleh saluran untuk mengoreksi kekuasaan. Namun, kebebasan itu membutuhkan kemampuan mengendalikan diri dan menghargai orang lain. Keduanya perlu dipelajari melalui pengalaman sehari-hari.

Karena itu, pembicaraan tentang etika digital patut bergerak menuju langkah yang lebih konkret. Kita memerlukan kegiatan yang melatih kepekaan, menyediakan ruang perjumpaan, dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Yogyakarta memiliki bekal untuk mengerjakannya.

Dalam publikasi Taman Budaya Yogyakarta mengenai pertemuan kepala taman budaya pada September 2026, program Art for Children disebut sebagai salah satu sarana mengajarkan olah rasa dan budi pekerti sejak dini. Pendidikan seni ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan karakter, melampaui tujuan melahirkan seniman.

Gagasan tersebut layak diperluas. Sanggar, sekolah, perpustakaan, dan balai warga dapat menyediakan kegiatan rutin yang mempertemukan anak dengan seni serta kehidupan bersama. Mendongeng, bermain teater, menari, menggambar, atau berlatih musik memberi kesempatan untuk belajar menunggu giliran, menerima koreksi, dan memperhatikan orang lain.

Dalam latihan gamelan, misalnya, seseorang perlu mendengarkan keseluruhan permainan. Ia belajar kapan harus masuk, seberapa kuat membunyikan instrumen, dan bagaimana menjaga keselarasan. Pengalaman semacam ini dapat menjadi bahan pendidikan etika digital: kebebasan bersuara berjalan bersama kesediaan mendengar.

Pelajaran itu perlu dijembatani secara sadar. Seusai latihan seni, pendamping dapat mengajak peserta membicarakan pengalaman mereka. Bagaimana rasanya ketika pendapat diabaikan? Apa akibatnya jika seseorang terus mendominasi? Bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan?

Dengan cara tersebut, kebudayaan hadir sebagai latihan menghadapi persoalan hari ini.