Jika suatu negara tidak sedang berperang, keluarnya negara tersebut dari Traktat Ottawa seharusnya berlaku enam bulan setelah pengumuman. Namun, jika negara tersebut sedang berperang, keputusan keluar baru berlaku setelah perjanjian perdamaian ditandatangani. Terlepas dari ketidakpastian hukum tersebut, Ukraina dilaporkan sudah menggunakan ranjau, meski dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan Rusia.
Menurut United Nations Mine Action Service (UNMAS), hingga pertengahan 2025 sekitar 25% wilayah Ukraina terdampak ranjau darat dan persenjataan peledak. Hal ini tidak hanya mencakup wilayah yang berada di bawah kendali Ukraina, tetapi juga wilayah yang diduduki Rusia di bagian timur dan tenggara negara tersebut.
"Sejak Februari 2022, lebih dari 1.150 warga sipil tewas atau terluka akibat ranjau darat dan sisa-sisa bahan peledak dari perang (ERW)," tulis UNMAS di situsnya. Organisasi tersebut memperkirakan biaya pembersihan ranjau secara menyeluruh mencapai sedikit di bawah US$35 miliar (sekitar Rp625 triliun) dalam kurun waktu 10 tahun.
Polandia, Finlandia, yang bergabung dengan NATO setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, Latvia, Lituania, dan Estonia, yang seluruhnya pernah mengalami agresi dan pendudukan Rusia di masa lalu, juga memutuskan keluar dari Traktat Ottawa tahun lalu.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk telah beberapa kali menyatakan bahwa negaranya ingin memiliki kemampuan untuk memasang ranjau di perbatasan timurnya dengan Rusia dengan cepat jika diperlukan. Perusahaan pertahanan milik negara Polandia, Belma, telah dikontrak untuk memproduksi ranjau antipersonel dalam jumlah besar. Lituania juga mengumumkan akan kembali memproduksi dan membeli ranjau darat.
Militer Finlandia mengatakan bahwa jika ranjau diperlukan, pemasangannya harus dilakukan secara bertanggung jawab, peta lokasi ranjau harus dibuat secara akurat, dan harus tersedia rencana yang jelas untuk melakukan pembersihan ranjau.
Wisotzki dari PRIF mengatakan hal tersebut merupakan kemajuan dibandingkan masa lalu. Namun, ranjau antipersonel modern sering dilengkapi sensor dan teknologi pintar yang membuat ranjau lebih sulit ditemukan, diangkat, dan dihancurkan.
"Itulah sebabnya saya sangat kritis terhadap perkembangan ini. Bahkan teknologi baru menimbulkan persoalan yang pada akhirnya membuat pembersihan ranjau semakin sulit. Dalam praktiknya, ranjau selalu dipasang di wilayah yang juga digunakan warga sipil. Ranjau kemudian tetap berada di wilayah tersebut dan secara tidak proporsional melukai warga sipil."