Pembukaan kemudian diisi dengan Pedaran Sajarah Kawali dan Nyiar Lumar dalam Guar Carita oleh budayawan Pandu Radea. Acara dilanjutkan dengan sekapur sirih dari Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebut Nyiar Lumar memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat bagi masyarakat Kawali.

"Nyiar Lumar merupakan tradisi budaya dua tahunan yang telah dirintis sejak tahun 1998 oleh para seniman dan budayawan Kawali. Secara harfiah, Nyiar Lumar berarti mencari jamur bercahaya, tetapi lebih dari itu, Nyiar Lumar merupakan perjalanan kontemplatif untuk mencari cahaya kehidupan," kata Herdiat.

Menurutnya, perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenal alam, sejarah, serta akar budaya Sunda yang tumbuh di Kawali.

"Kawali dan Situs Astana Gede memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi sebagai jejak peradaban dan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda Galuh pada masa lalu," ujarnya.

Setelah prosesi pembukaan, perjalanan menuju Situs Astana Gede dimulai. Para peserta berjalan kaki menyusuri jalan Kawali dalam rangkaian Lalampahan.

Obor dan pataka menjadi penanda perjalanan. Di sepanjang jalan, suasana malam terasa tenang. Cahaya bulan menemani langkah peserta melewati perkampungan, sementara suara serangga malam sesekali terdengar dari sekitar.

Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari konsep Nyiar Lumar. Peserta tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi diajak merasakan langsung perjalanan menuju kawasan bersejarah Astana Gede. Sesampainya di kompleks situs, rangkaian Magelaran dimulai.

Genjring Tepak Lima dari Genjring Ronyok Banjarwaru Kawali menyambut kedatangan peserta. Di Gerbang Kulon, Studio Titikdua Ciamis kemudian menampilkan komposisi tari bertajuk Nyiar Lumar. Pertunjukan berlanjut ke Rungkun Haur. Sanggar Kawalian berkolaborasi dengan Ekskul Musik SMAN 1 Kawali membawakan pembacaan sajak.