Dari sana, perjalanan seni terus bergerak menuju sejumlah titik pertunjukan. Di Paris 1, tampil Sanggar Lingga Purbasari Kabupaten Ciamis bersama kolaborasi pembacaan sajak Surat keur Aki Caraka oleh Teater Tangtu Tilu UNIGAL Ciamis, Teater Pijar Ciamis, dan Jaro X Yus.
Pertunjukan berikutnya digelar di Lapak Mahoni bersama Komunitas Cermin Kota Tasikmalaya. Sementara di Paris 2, penonton disuguhi dramatisasi puisi Tragedi Bubat berjudul Sajak Kawalian 2 (Citraresmi) karya Godi Suwarna oleh Teater Jagat SMAN 1 Kawali. Ekspresi sastra dan musikalisasi puisi dari sejumlah partisipan turut melengkapi perjalanan malam itu.
Puncak Nyiar Lumar 2026 berlangsung di Pesangrahan Cikawali. Teater SASADU tampil membawakan teater kolosal yang mengangkat cerita Perang Bubat. Setelah itu, suasana semakin hangat ketika Maestro Bi Raspi tampil membawakan Ronggeng Gunung.
Masyarakat dan para tamu kemudian diajak menari bersama. Malam di Kawali pun berlanjut dalam suasana kebersamaan hingga menjelang pagi. Herdiat menilai rangkaian Nyiar Lumar menjadi salah satu bentuk nyata upaya pemerintah daerah dalam menjaga kebudayaan.
Ia menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
"Melalui perda ini, Pemerintah Kabupaten Ciamis berkomitmen untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan dan membina kebudayaan daerah secara berkelanjutan, termasuk melestarikan tradisi seperti Nyiar Lumar," katanya.
Herdiat juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, seniman, budayawan, tokoh masyarakat serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Nyiar Lumar 2026. Ia berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya dan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi wisata budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Saya berharap Nyiar Lumar tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya dan sejarah, tetapi juga dapat terus dikembangkan menjadi aset wisata budaya unggulan Kabupaten Ciamis yang mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat," ujarnya.
Menurut Herdiat, Nyiar Lumar juga memiliki potensi untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Ciamis kepada masyarakat di luar daerah. Hal itu terlihat dari kehadiran peserta yang tidak hanya berasal dari Kawali dan sekitarnya, melainkan juga dari berbagai daerah lainnya. Ia pun mengajak generasi muda untuk ikut menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. "Jadikanlah Nyiar Lumar sebagai kebanggaan dan identitas budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya," kata Herdiat.