Ia mengingatkan bahwa persaingan menuju kursi tertinggi WHO sangat ketat dan penuh kalkulasi diplomasi. Saat ini, BGS sudah terdaftar bersama tiga kandidat lain, yakni Dr Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, Dr Hanan Balkhy dari Arab Saudi, dan Dr Hans Henri P Kluge dari Belgia, hingga batas pendaftaran 24 September 2026.
Salah satu syarat krusial yang harus diantisipasi pemerintah adalah hambatan struktural diplomasi. Indonesia saat ini tidak memiliki perwakilan di Executive Board WHO, yang nantinya bertugas menyeleksi dan menominasikan tiga calon final.
"Tapi kan tidak cukup didukung saja. Kita harus memberikan masukan supaya langkahnya benar, terutama karena Indonesia tidak punya perwakilan di Executive Board WHO saat sesi nominasi nanti (2027)," jelasnya.
Selain paham peta politik di WHO, Dicky menegaskan syarat utama agar dukungan publik nasional tidak sia-sia adalah penyelesaian berbagai polemik di dalam negeri. Dunia internasional akan melihat sejauh mana fondasi kesehatan nasional dikelola secara harmonis.