NADIKABAR.COM β Kerusakan lahan gambut di Indonesia tak hanya memperparah kebakaran hutan dan kabut asap, tetapi juga meningkatkan ancaman banjir. Ekosistem yang terbentuk selama ribuan tahun itu kehilangan kemampuan menyimpan air setelah mengalami pengeringan dan alih fungsi lahan secara masif.
Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura Gusti Zakaria Anshari menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa lahan gambut di Indonesia semakin kritis. Ahli gambut tropis yang juga menjadi salah satu penulis Laporan Penilaian Keenam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) itu memperingatkan Indonesia berpotensi menghadapi bencana yang berulang jika kerusakan gambut terus berlanjut.
Dalam wawancara dengan NadiKabar.com, Gusti menjelaskan bagaimana aktivitas manusia mengubah fungsi gambut, mengapa kerusakannya sulit dipulihkan, serta ancaman kebakaran dan banjir yang membayangi masyarakat di sekitar ekosistem tersebut.
Sejak kapan gambut jadi sumber kabut asap?
Khusus Indonesia, kita kan memiliki lahan gambut terluas di Asia Tenggara, dan kita harus ingat gambut itu sebenarnya bukan lahan, tapi ekosistem hutan. Maksudnya berkayu, tapi karena kita ingin pembangunan, kita mulai melakukan gangguan, yaitu menebang kayu di hutan gambut setelah hutan lahan kering habis.
Kemudian setelah kayunya habis, kan tinggal lahan tuh. Pemerintah berpikirnya ini seperti instrumen saja, "oh ini lahan bisa digunakan untuk apa", karena kan lahannya murah. Kemudian tahun 70-an gambut mulai dibuka menjadi proyek transmigrasi, karena gambut kan kita juluki tanah marginal atau tanah sub-optimal. Kalau di literatur asing dibilang wasteland, tanah kurang bermanfaat.
Sehingga gambut banyak sekali di drainase dibuatkan kanal agar airnya kering. (Karena) sudah tidak berhutan lagi, akibatnya sangat mudah terbakar karena ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan seperti pakis. Pakis-pakis itu kalau kering mudah terbakar. Terus gambutnya yang kering karena drainase juga mudah terbakar.Dan sifat kebakaran gambut itu sifat kebakaran dalam tanah, sehingga sulit padam dan menyebabkan kabut asap, karena dia melepaskan air, jadi asap. Asap itu menjadi polusi dan dampaknya pada kesehatan.
Bagaimana Anda melihat kerugian Indonesia dengan kondisi gambut seperti ini?
Jadi kenapa kok gambut kita mudah terbakar, apakah pada musim El Nino saat ini di mana musim kemarau berkepanjangan, maupun saat tidak ada El Nino, hampir setiap tahun kita mengalami masalah kebakaran gambut. Ini salah satu urgency, standarΒ tipping point-nya. Kayaknya kita sudah mulai memasuki ke arah sana (tipping point).
Kerugiannya sangat besar. Kita tahu sekali kebakaran gambut itu sangat mahal. Sekarang dikerahkan berapa banyak helikopter, satu jam helikopter sampai 100 juta atau 200 juta, berapa pasukan daratnya, pemadamnya, dan seterusnya.
Kemudian kerugian jangka panjang, mungkin dampak kesehatan (akibat asap) yang kita tidak bisa ukur saat ini dengan mudah. Bagaimana generasi akan datang - SDM kita bagaimana? Yang hidupnya seperti kami, hidup di sekitar lahan gambut di Pontianak, yang diselimuti kabut asap saat ini?
Apakah kebakaran gambut baru terjadi saat ini atau dari jaman dulu sudah pernah terjadi, kenapa sekarang seperti sering sekali?
Kalau kita lihat musim kering yang berkepanjangan, sebenarnya ya, sejak ribuan tahun lalu sudah pernah juga. Berdasarkan data paleo, kalau kita lihat jaman dulu, saya pakai data radio karbon juga menunjukkan umur gambut di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, itu sampai 40-an ribu tahun.
Ada juga 20-an ribu sampai 30 ribuan tahun. Kalau yang di pinggir pantai mungkin 7-8 ribu tahun. Dalam riset umur kapan dia terbentuk itu memang ada sisa-sisa arang. Jadi (di masa lalu) memang pernah terjadi kebakaran.
Tapi kita bicaranya dalam jangka waktu berubah mungkin ribuan tahun. Jadi tidak menyebabkan ekosistem itu rusak atau kolaps.Dalam jangka waktu pembangunan, mungkin 40-50 tahun, gambut itu mulai banyak diganggu, ketika Orde Baru mulai. Berarti tahun 70-an, sampai sekarang.
Apa perubahan terbesar alih fungsi gambutnya?
Dikonversi, difungsikan sebagai fungsi lain. Kita melupakan fungsi-fungsi gambut sebagai penyimpan air, tempat biodiversitas, yang menjaga kehidupan kita. Itu sekarang hilang.
Akibatnya, sekarang musim kering sering kebakaran. Tanaman kelapa sawit yang ditanam di atas lahan gambut sebagian daunnya akan mengering, karena tidak ada air lagi. Itu menunjukkan daya simpan air di gambut itu sudah habis.
Jadi sudah kritis. Itu yang terjadi ketika fungsi gambutnya sudah hilang. Paling penting ini terjadinya fungsi-fungsi yang berubah: gambut mengering, emisi karbon yang sangat tinggi, menurut laporan UNEP juga, yang saya katakan, itu sifatnya irreversible (tidak bisa dikembalikan lagi). Tidak akan balik, tidak bisa. Masalahnya gambut itu terbentuk dalam ribuan tahun tadi. Jadi dalam satu tahun, mungkin hanya setengah milimeter atau kurang lapisan gambut itu bertambah.
Jadi kan tidak mungkin dalam skala manusia, waktu kita hidup, bisa membalikkannya lagi. Merestorasi, memulihkan. Yang bisa kita kerjakan sekarang, mungkin mengurangi atau menjaga saja.
Bagaimana Anda melihat ancaman bencana ke depan?