Menurut penjelasan yang disampaikan Teddy, pengaturan posisi di dalam gerbong dilakukan untuk memberikan ruang agar para penyandang disabilitas dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Dengan demikian, para penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Presiden serta Gubernur.
Menurut Hensa, konteks tersebut tidak terlihat apabila masyarakat hanya menyaksikan potongan video yang lebih dahulu beredar.
"Tetapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Perkeretaapian, dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya," ujarnya.
Hensa menyatakan fenomena semacam itu tidak hanya terjadi dalam kasus Teddy. Menurut dia, berbagai peristiwa lain juga dapat dipahami secara tidak lengkap apabila masyarakat hanya mengandalkan potongan video.
Ia mengatakan masyarakat saat ini kerap menemukan suatu peristiwa melalui video-video pendek. Persoalannya, potongan tersebut tidak selalu menyertakan konteks secara keseluruhan.