Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai fenomena tersebut tidak lepas dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten di media sosial.
Menurut dia, cerita atau komunikasi dengan durasi panjang cenderung lebih jarang ditampilkan karena dianggap dapat membuat pengguna media sosial bosan hingga menghabiskan lebih banyak kuota internet.
Akibatnya, pembuat konten lebih memilih membuat potongan-potongan video singkat yang dinilai lebih mudah mendapatkan perhatian.
"Jadi, biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP," ujar Hensa.
Namun, menurut dia, ada hal penting yang berpotensi hilang ketika sebuah peristiwa hanya disajikan dalam bentuk potongan-potongan singkat tersebut.
Hensa mengatakan kondisi semacam itu dapat membuat masyarakat mendapatkan cerita setengah-setengah dan akhirnya memahami sebuah kejadian secara berbeda apabila tidak mencari konteks lengkapnya.