"Intinya saling ngejaga aja di sini mah, biar kalau ada apa-apa ke depannya terus kompak dari pedagang sama warganya," tutur Heri.

Kesepakatan itu bukan sekadar aturan yang hanya terdengar di tim redaksi para pedagang. Rizal (37), pedagang lainnya, bahkan pernah menyaksikan langsung ketika ada juru parkir yang mencoba masuk ke kawasan tersebut.

Beberapa hari sebelum perbincangan dengan NadiKabar, seorang juru parkir sempat datang dan menawarkan jasa kepada pengunjung. Namun, keberadaannya tak berlangsung lama. Setelah mendapat teguran dari warga, juru parkir tersebut akhirnya pergi meninggalkan kawasan.

"Kalau enggak salah dua-tiga harian lah, ada yang datang ke sini mau markir, tapi akhirnya diusir. Diusirnya juga secara halus yah, kang, maksudnya. Tidak sampai terjadi keributan," kata Rizal.

Pada akhirnya, kenyamanan berburu jajanan di Bumi Panyileukan bukan semata karena banyaknya pilihan makanan. Ada kesepakatan sederhana yang terus dijaga tim redaksi warga dan pedagang agar kawasan tetap nyaman bagi siapa pun yang datang.

Pengunjung pun bisa datang tanpa banyak pikir. Memilih makanan yang disukai, memarkirkan kendaraan, menyantap pesanan, lalu pulang tanpa perlu menyiapkan uang tambahan untuk parkir.

Di tengah ramainya kawasan kuliner Kota Bandung, Bumi Panyileukan seolah menawarkan kemerdekaan dalam bentuk yang sederhana. Semua itu berjalan karena satu hal yang terus dipertahankan warga dan pedagang, yaitu saling menjaga kenyamanan.