Masalahnya bagi warga Libya biasa, krisis ini berarti makanan yang mereka simpan di lemari pendingin akan lebih cepat untuk membusuk dan bisnis yang terhenti di tengah panas yang tak tertahankan. Alhasil banyak warga harus mengandalkan alat generator untuk mengatasi pemadaman listrik di tengah pasokan BBM nasional yang juga sangat terbatas.

"Karena pemadaman listrik, dua lemari es rusak, selain produk susu yang juga basi," kata salah satu pemilik toko kelontong di Libya, Slimane Fitouri, kepada AFP seperti dikutip dari Africa News.

Selama kunjungan AFP ke tokonya, listrik padam, dan para pelanggan sangat terburu-buru menyelesaikan belanja mereka dengan mengandalkan cahaya ponsel untuk penerangan. Sementara Fitouri terus berupaya untuk menyalakan generator yang sangat mahal karena membutuhkan bahan bakar dalam jumlah yang signifikan.

"Saya tidak tahu berapa lama saya bisa bertahan," sambungnya.

Krisis energi tersebut juga secara langsung mendorong kenaikan harga generator di Libya, karena permintaan yang melonjak sangat drastis. Menjadi beban tambahan bagi pemilik usaha kecil seperti Fitouri dan masyarakat pada umumnya.