Contoh lain ada Abderrahmane Souissi yang sehari-hari bekerja di kementerian kesehatan Libya. Saat ditemui AFP dirinya sedang memeriksa beberapa generator di sebuah toko di Tripoli tetapi mendapati harga alat itu sudah terlalu mahal.
"Harganya sangat tinggi dan bahan bakar untuk mengoperasikannya tidak tersedia," katanya kepada AFP.
"Hal itu membuat Anda bingung ketika Anda tinggal di negara yang kaya akan sumber daya. Saya punya empat anak, dan istri saya memaksa saya untuk membeli generator karena mereka tidak bisa tidur karena panas dan kelembapan yang tinggi. Seluruh stok makanan beku kami rusak," ucap Souissi lagi.
Tak hanya harga generator yang sangat mahal, secara umum mendapatkan bahan bakar di negara kaya akan minyak ini sedang sangat sulit. Para pengendara mobil harus mengantre sangat panjang hingga beberapa kilometer di SPBU di seluruh Libya bagian barat dan tengah.
"Antrean bisa memakan waktu enam jam atau lebih, dengan mobil-mobil berbaris di depan SPBU hingga jarak yang terkadang mencapai empat kilometer" kata Abdeslam Zarti yang bersandar di mobilnya menunggu bensin.