Namun, cuan yang didapatkan para pramuantar tentu tak menggembirakan ketika Pantai Tulamben sepi dari turis. Porter bisa cuma mendapatkan penghasilan Rp 30 ribu saja. Pasalnya, upah yang mereka dapat hanya Rp 15 ribu dalam sekali angkut peralatan diving.
Pramuantar lain, Ni Nengah Jesani, mengungkapkan berbagai suka dan duka menjadi porter di Pantai Tulamben. Suka yang dirasakan tentu kala Pantau Tulamben ramai didatangi turis karena penghasilan yang didapat jadi lebih banyak.
Situasi berbalik ketika Pantai Tulamben sepi. Jesani dan para porter lain bisa tak berpenghasilan karena perusahaan yang diajak bekerja sama tidak mendapat wisatawan.
"Saat dapat penghasilan sedikit bahkan kadang tidak dapat, kami hanya bisa pasrah," ujar Jesani.
Jesani, Mustini, dan pramuantar lain biasanya bekerja di Pantai Tulamben sejak pagi. Bahkan, sebelum para turis datang, mereka terlebih dahulu membersihkan sampah di sekitar pantai. Mereka baru pulang ke rumah pada sore hari.
"Semoga wisatawan yang datang ke Pantai Tulamben selalu ramai, karena ini merupakan pekerja kami satu-satunya," harap Jesani.