"Kami panitia dan kerja sama dengan kampus menyiapkan sekitar Rp 3 miliar untuk beasiswa yang juara. Nanti yang juara-juara ini kami rekomendasikan untuk mengikuti perlombaan internasional di Malaysia, tentu dengan pembinaan terlebih dahulu," kata Japar.

Meskipun antusiasme siswa begitu meluap, perjalanan membumikan literasi robotika di daerah seperti Sukabumi masih menghadapi kerikil tajam. Dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah dan sekolah, masih sangat dibutuhkan agar bakat-bakat emas ini tak padam di tengah jalan.

Dari sekitar 350 siswa yang terdaftar di 21 sekolah mitra Sukarobot Academy di Sukabumi, baru sekitar 5 persen yang berani melangkah ke ajang kompetisi. Minimnya partisipasi ini dipengaruhi keterbatasan modal finansial perangkat hardware serta belum meratanya pemahaman orang tua dan sekolah mengenai prospek dunia robotika.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Sukarobot Academy aktif berkolaborasi dengan Persatuan Robotika Indonesia (PRI) untuk mendorong hadirnya regulasi dan ekosistem pendukung dari pemerintah, sekaligus memperluas program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

Ajang ini menjadi bukti nyata bahwa jika diberikan wadah dan bimbingan yang tepat, ratusan siswa dari daerah pun mampu menguasai teknologi tingkat tinggi. Di tangan anak-anak kreatif inilah, fondasi Menuju Generasi Emas 2045 sedang dibangun, komponen demi komponen, program demi program.