NADIKABAR.COM — roda kecil yang bergesekan sengit dengan lintasan karet memenuhi aula Universitas Nusa Putra, Kabupaten Sukabumi. Di arena seluas beberapa meter persegi itu, tampak jemari para siswa dengan cekatan membetulkan posisi sensor sebuah robot rakitan. Matanya menatap tajam, penuh konsentrasi, memperhitungkan setiap milimeter pergerakan mesin kecil berotak mikrokontroler yang dirancangnya sendiri.

Pemandangan penuh antusiasme itu menyelimuti ajang Sukarobot Robotic Competition (SRC) ke-5. Tak kurang dari 250 peserta yang didominasi ratusan siswa dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK bersaing sengit merajut imajinasi dan logika pemrograman. Mereka datang dari berbagai kota dan provinsi untuk membuktikan bahwa generasi muda Indonesia siap menyongsong era teknologi masa depan.

Gelaran yang berlangsung selama dua hari penuh ini menjadi ajang unjuk kebolehan bagi para inovator muda. Atmosfer kompetisi terasa makin membakar saat kategori-kategori utama mulai dipertandingkan, mulai dari adu cepat Fast Building untuk tingkat TK dan SD, ketangkasan program Line Follower, duel sengit arena Sumo dan Soccer, hingga adu gagasan di kategori Kreatif Inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

"Untuk total peserta yang mengikuti kegiatan ini ada 250 orang dari berbagai kota dan provinsi. Paling banyak, dominan yang mengikuti perlombaan itu kategori Line Follower umur 12 sampai 16 tahun," kata Japar Sidik, Founder & CEO Sukarobot Academy kepada NadiKabar, Minggu (30/8/2026) sore.

Dia mengatakan, kategori Kreatif Inovasi menjadi panggung utama di mana kecanggihan teknologi berpadu dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Ratusan siswa tak sekadar merakit perangkat keras, tetapi juga mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk memecahkan persoalan nyata sehari-hari.

Sejumlah inovasi tepat guna lahir dari jemari cerdas para siswa, seperti robot pendaur ulang sampah otomatis, sistem deteksi dini banjir, deteksi kebakaran hutan, hingga robot perancang teknologi pertanian modern.

Japar mengungkapkan betapa pesatnya lompatan kemampuan digital anak-anak zaman sekarang. Bahkan, iklim pembelajaran teknologi saat ini sudah menembus batas-batas usia formal.

"Saya lihat peserta didik saat ini, anak TK sudah belajar coding, sudah belajar ngerakit Arduino untuk anak SD. Padahal Arduino ataupun robotik itu juga sudah ada dalam perkuliahan. Ini bukti nyata meleknya anak-anak terhadap digital dan teknologi," ungkapnya.

Menurut Japar, penilaian pada kategori inovasi tidak hanya melihat bentuk fisik, melainkan nilai kemanfaatan nyata, kecanggihan teknologi, serta kesesuaian dengan tema berbasis teknologi tepat guna.

Kerja keras ratusan siswa dalam ajang tahunan ini tak sia-sia. Panitia pelaksana bersama mitra perguruan tinggi telah menyiapkan karpet merah bagi para jawara. Tak main-main, apresiasi setinggi-tingginya diberikan dalam bentuk beasiswa pendidikan hingga rekomendasi berlaga di panggung internasional.

Para pemenang dari ajang SRC ke-5 ini tercatat masuk dalam kurasi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Selain itu, mereka yang keluar sebagai juara diproyeksikan untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan robotik internasional di Malaysia yang bakal diikuti kontingen dari 10 negara.

"Kami panitia dan kerja sama dengan kampus menyiapkan sekitar Rp 3 miliar untuk beasiswa yang juara. Nanti yang juara-juara ini kami rekomendasikan untuk mengikuti perlombaan internasional di Malaysia, tentu dengan pembinaan terlebih dahulu," kata Japar.

Meskipun antusiasme siswa begitu meluap, perjalanan membumikan literasi robotika di daerah seperti Sukabumi masih menghadapi kerikil tajam. Dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah dan sekolah, masih sangat dibutuhkan agar bakat-bakat emas ini tak padam di tengah jalan.

Dari sekitar 350 siswa yang terdaftar di 21 sekolah mitra Sukarobot Academy di Sukabumi, baru sekitar 5 persen yang berani melangkah ke ajang kompetisi. Minimnya partisipasi ini dipengaruhi keterbatasan modal finansial perangkat hardware serta belum meratanya pemahaman orang tua dan sekolah mengenai prospek dunia robotika.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Sukarobot Academy aktif berkolaborasi dengan Persatuan Robotika Indonesia (PRI) untuk mendorong hadirnya regulasi dan ekosistem pendukung dari pemerintah, sekaligus memperluas program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

Ajang ini menjadi bukti nyata bahwa jika diberikan wadah dan bimbingan yang tepat, ratusan siswa dari daerah pun mampu menguasai teknologi tingkat tinggi. Di tangan anak-anak kreatif inilah, fondasi Menuju Generasi Emas 2045 sedang dibangun, komponen demi komponen, program demi program.