Wenny berharap pementasan tersebut dapat memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok dan perjuangannya.
Di balik penggarapan pertunjukan, penulis naskah Endah D. Jenura mengungkapkan proses riset dan penelusuran bahan sejarah berlangsung selama dua tahun. Tim mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk arsip surat kabar dan dokumentasi sejarah, untuk memahami kehidupan Auw Tjoei Lan serta kondisi sosial pada masanya.
Salah satu referensi yang ditemukan ialah artikel surat kabar De Locomotief tertanggal 23 Juni 1925 yang memuat informasi mengenai perdagangan manusia. Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakangi cerita.
Keterbatasan dokumentasi tertulis dan rekaman visual menjadi tantangan dalam proses penelusuran. Untuk melengkapi informasi, tim juga menggali kesaksian Oma Stela, cucu Auw Tjoei Lan.
Dari penuturan keluarga, tim memperoleh gambaran mengenai sisi personal tokoh tersebut, mulai dari cara berjalan dan kebiasaannya berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda hingga panggilannya kepada sang suami, yakni 'Brur'.
Tantangan berikutnya adalah mengolah bahan sejarah menjadi cerita yang memiliki konflik dan alur dramatik. Tidak seluruh karakter maupun peristiwa yang dibutuhkan untuk membangun pertunjukan ditemukan secara langsung dalam sumber sejarah. Karena itu, tim mengembangkan sejumlah karakter untuk mendukung kebutuhan artistik dan penyampaian cerita di atas panggung.