Pengembangan itu menjadi bagian dari interpretasi dramatik, bukan pernyataan bahwa seluruh karakter, dialog, dan peristiwa dalam pertunjukan tercatat secara langsung dalam dokumen sejarah. Pembedaan antara temuan arsip, kesaksian keluarga, dan pengembangan artistik menjadi bagian penting dalam proses adaptasi kisah tokoh sejarah ke dalam seni pertunjukan.

Pementasan ini disutradarai Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis Endah D. Jenura. Aktris Maudy Koesnaedi turut terlibat dengan memerankan Sayap Hitam, salah satu karakter dalam pertunjukan. Karakter ini menghadirkan perspektif lain mengenai perempuan, pilihan moral, serta tindakan yang dilakukan seseorang dalam situasi sosial tertentu.

Maudy juga sempat menyampaikan salah satu dialog karakternya, "Aku kan membantu perempuan-perempuan ini untuk mendapatkan penghasilan."

Dialog ini menjadi bagian dari konflik dramatik yang mengajak penonton mencermati alasan di balik suatu tindakan sekaligus mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Karakter Sayap Hitam memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan moral melalui sudut pandang yang tidak selalu sederhana.

Selain Joane Win dan Maudy Koesnaedi, pertunjukan ini melibatkan sejumlah pemain, yakni Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, Willem Bievers sebagai Van Walsem, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal. Joane Win juga bertindak sebagai produser eksekutif.

Pementasan Njonja Ati Soetji didukung oleh Indonesia Kaya, Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale.