Puncak dari aspek teknis film ini jelas bisa dirasakan sepenuhnya saat baku hantam antarmonster itu meledak. Raungan raksasa purba dan dentuman langkah mereka sukses merobek tata suara bioskop.

Hembusan napas api biru dan tiap injakan kaki itu seolah merambat langsung ke kursi penonton. Format IMAX benar-benar menjadi aspek yang diperas habis potensinya oleh tim di belakang kamera.

Sayangnya, keagungan visual ini harus tersandung naskah. Tak benar-benar ada formula yang baru dalam Godzilla Minus Zero. Film ini seperti masih menggunakan cara yang lama, yang dijejali subplot.

Metaforanya juga ikut menguap. Dalam Minus One, Godzilla mungkin sudah ajek sebagai simbol petaka nuklir, tapi posisi Ghidorah di sini luntang-lantung sekadar jadi representasi cuaca buruk yang mengamuk tanpa pijakan makna yang jelas.

Belum lagi rasa frustrasi yang muncul gara-gara durasi pertarungan puncak mereka dipangkas kelewat pelit.

Di luar itu semua, benang emosional manusia coba kembali diurai melalui luka dan trauma keluarga Shikishima. Yamazaki tampak terlalu bernafsu memeluk melodrama panggung yang meluap-luap.