Tarik-ulur Noriko dan Kōichi jadi ujian kesabaran. Tanpa ada alasan yang benar-benar jelas, Noriko kini menjadi pemegang kunci keselamatan umat manusia, tapi Kōichi mati-matian merantai pergerakannya karena fobia kehilangan.
Plot ini diperas habis-habisan oleh Yamazaki sampai menembus batas jenuh menjelang akhir cerita sehingga durasi membengkak tanpa esensi. Dialognya di beberapa bagian terdengar canggung, disusul eksekusi akting pemicu air mata yang malah terasa kedodoran dan dipaksakan.
Di tengah situasi itu, sosok yang berhasil mencuri spotlight adalah Min Tanaka sebagai ilmuwan Hiroji Murakami. Meskipun bukan karakter utama, daya tarik bintang film Kokuho ini begitu memikat.Ia seperti dengan mudahnya menelanjangi lapis demi lapis emosi dan kompleksitas isi kepala seorang genius yang juga penyintas bom Hiroshima. Bibit kegilaan dan dendam kesumatnya pada militer Amerika menyuntikkan dimensi politik yang amat pekat.
Fantasi balas dendam Murakami usai menyaksikan hangusnya keluarganya di Hiroshima, ketakutan monopoli senjata pemusnah massal oleh negara adidaya, hingga keputusasaan merawat kepolosan generasi muda di dunia yang kejam, terekam sempurna di layar. Murakami membekas begitu dalam biarpun tak mengobral dialog.
Pada akhirnya, Godzilla Minus Zero hadir sebagai monster paradoks. Ia berhasil berevolusi menjadi lebih besar dan lebih keras menyalip pendahulunya di departemen teknis, tapi tertatih saat coba mempertahankan bobot ceritanya.