NADIKABAR.COM — Bahkan Laut Bercerita yang sudah dijaga kreator aslinya, Leila S. Chudori, di tim skenario dan dikomandoi Yosep Anggi Noen di kursi sutradara, tak bisa lolos dari 'kutukan' film adaptasi dari novel laris.
Dengan sumber daya melimpah dan potensi yang besar, Laut Bercerita justru sempat tertatih-tatih dalam menyatukan kepingan cerita pada awal film. Alih-alih membangun cerita secara perlahan untuk mengikat emosi penonton dan menghanyutkannya ke samudra cerita Laut, film ini justru terlihat 'kesusu' membawa penonton ke sejumlah peristiwa penting.
Laut Bercerita sebenarnya punya semua yang dibutuhkan untuk menggulung tiga status sekaligus dengan mudah: penting, terhubung dengan penonton, dan kesuksesan.
Leila turun gunung langsung menjaga kata-katanya dalam novel yang terjual 500 ribu eksemplar per Juli 2025 itu tidak menyimpang terlalu jauh di layar lebar, sekaligus mempertahankan ruh novel yang sudah punya penggemar sendiri ini.
Ahmad Zulkarnaen sebagai production designer bersama para penata artistik juga piawai membangun dunia Laut Bercerita. Nuansa akhir dekade '90-an begitu presisi menembus layar ketika dikombinasikan dengan hasil tangkapan Batara Goempar sebagai sinematografer. Ofel Obaja Setiawan sebagai penata musik juga berhasil kawin dengan peristiwa-peristiwa dalam film tersebut.
Selain itu, deretan pemeran kelas kakap yang tak perlu diragukan kemampuannya menghidupkan karakter, seperti Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Christine Hakim sebagai Ibu, hingga Arswendy Bening Swara sebagai Bapak, juga menjadi kekuatan yang menopang cerita.
Namun, segala modal privilese yang dimiliki Laut Bercerita itu ternyata tidak menjamin hasil cerita bisa mengalir dengan mulus.
Ada bagian perahu yang hilang dalam arus cerita Laut yang membuat penonton hanya sekadar melihat rangkaian kejadian, bukan mengarungi drama kisah kehidupan Laut Bercerita sehingga terhubung dan akhirnya menyentuh relung.