Film ini memang punya tantangan besar pada aspek cerita, salah satunya adalah bagaimana memberikan ruang cukup untuk banyak karakternya dengan peristiwa yang saling kait-mengait dan berkontribusi dalam pengembangan ceritanya.
Karena Laut Bercerita tidak semata-mata berbicara soal peristiwa sejarah yang jadi latarnya, tetapi juga pada manusia-manusia yang berada di dalamnya. Ada persahabatan, keyakinan, ketakutan, dan kehilangan yang seharusnya tumbuh beriringan dengan perjalanan cerita.
Unsur-unsur tersebut jelas membutuhkan ruang untuk bernapas agar dampak emosionalnya dapat dirasakan penonton. Persoalan ruang itu akhirnya juga terasa dari absennya sejumlah adegan penting.
Momen-momen ikonis yang melekat dalam ingatan pembaca dan dinantikan ejawantahnya dalam layar lebar itu nyatanya tak semua hadir, membuat kepingan cerita terasa hilang, terutama bagi mereka yang sudah lebih dulu mengenal perjalanan Laut dan kawan-kawannya.
Keterbatasan ruang itu akhirnya memengaruhi pengembangan karakter. Penculikan Laut dan kawan-kawannya oleh aparat menjadi titik penting yang seharusnya mempertegas duka dan kepiluan keluarga korban. Namun, kehilangan tersebut tidak terasa setajam ketika Leila merangkainya dalam novel.
Salah satu yang paling disayangkan adalah porsi Ratih Anjani yang diperankan Eva Celia. Dalam novel, Anjani digambarkan begitu pilu menghadapi kehilangan kekasihnya itu. Namun, dalam film, karakternya justru lebih sering terlihat konyol dan menyebalkan.
Sikap itu mestinya dapat dibaca sebagai bentuk penyangkalan Anjani atas fakta bahwa Laut hilang. Sayangnya, pergulatan emosi di balik sikap itu tidak tergambarkan cukup kuat, sehingga penyangkalan yang mestinya menyayat hati justru menghilangkan simpati.
Sementara itu, fokus cerita pada penantian Asmara Jati jadi salah satu kekuatan utama film ini. Acungan jempol layak diberikan kepada Yunita Siregar yang berhasil menghidupkan sosok Asmara dengan cukup utuh.