NADIKABAR.COM — Di pinggiran keriuhan Hari Jadi Kuningan, seorang pemuda berdiri mematung. Tangannya erat memegang tali kekang seekor kuda yang berhias elok.

Namanya Angga, usianya baru 22 tahun. Di balik kemeriahan parade yang melintas, ia bukan bagian dari barisan peserta. Angga adalah penyintas ekonomi yang menggantungkan hidup pada jasa kuda tunggang.

Sembari menawarkan tumpangan kepada setiap pasang mata yang lewat, Angga bercerita bahwa profesi ini bukanlah hal baru baginya. Ia sudah akrab dengan pelana sejak masih berseragam SMP.

Kala itu, sepulang sekolah, langkah kakinya langsung menuju Alun-Alun pusat kota Kuningan untuk menjemput rezeki. Kecintaannya pada hewan gagah ini menjadi bahan bakar utamanya bertahan selama belasan tahun.