"Sudah lama, dari sebelum alun alun ini berubah saja sekitar tahun 2010 an. Sudah mulai. Dari kecil hobi. Tapi ini bukan kuda sendiri, punya saudara," tutur Angga.

Angga mengenang masa-masa keemasan profesinya. Dulu, Jalan Siliwangi adalah ladang yang subur bagi penyedia jasa kuda tunggang. Keramaian yang tak putus membuatnya mudah mengantongi ratusan ribu rupiah hanya dalam hitungan jam. Namun, roda nasib berputar. Wajah kota yang kini bersolek lewat revitalisasi justru membawa dampak yang tak terduga bagi dompetnya.

Penataan kawasan Alun-Alun Kuningan yang kini tampak lebih modern, menurut Angga, justru menyisakan kesepian bagi para pencari nafkah seperti dirinya. Suasana yang dulu hidup dengan pedagang dan kerumunan kini terasa berbeda. Padahal, di balik jasa sewa itu, ada tanggung jawab besar untuk merawat sang kuda yang butuh perhatian ekstra agar tetap bugar.

"Dulu mah ya pengen Rp 100 ribu dapat dalam waktu 1 jam dapat. Rp100 ribu belum tentu sehari juga. Kadang mah nggak dapat sehari. Dulu makan di tempatnya masih ada yang jualan, kalau sekarang mah nggak ada yang jualan. Jadi area sini sepi. Sekarang saja, meski banyak orang tapi tetap sepi. Ngerawat sendiri di Purwawinangun. Gampang-gampang susah. Ya kalau perawatannya kurang ya kadang gampang sakit," tutur Angga.