Selain itu, peristiwa jatuhnya sampah antariksa di wilayah Indonesia juga pernah terjadi di Sumatera Barat (2017), Madura (2016), Bengkulu (2003), Lampung (1988), Sulawesi (1981).

Thomas mengatakan bahwa prosedur penanganan yang melibatkan koordinasi antar-negara cukup rumit sehingga sampah antariksa biasanya hanya disimpan oleh aparat setempat atau menjadi materi edukasi untuk masyarakat.

"Hanya kerugian besar yang dituntut oleh negara yang mengalami kerugian, seperti Kanada menuntut Uni Soviet karena sampah antariksa yang jatuh di Kanada bermuatan nuklir," kata Thomas kepada NadiKabar.com, Rabu (21/10).

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) Robertus Heru Triharjanto mengatakan sampah antariksa mungkin berukuran besar, padat, berat, dan tajam sehingga berpotensi menghancurkan objek yang tertimpa atau yang menjadi landasannya.

Selain bahaya utama tersebut, jatuhnya sampah antariksa juga bisa mengganggu aktivitas penerbangan.

"Dengan masuknya benda apapun ke ruang udara seperti sampah antariksa (atau bahkan balon), ada kemungkinan bertabrakan dengan pesawat yang melintas. Sehingga umumnya jika diketahui akan ada yang melintas dilakukan koordinasi dengan otoritas lalu lintas udara (NOTAM)," ungkap Heru.

Sebagian besar satelit modern yang ada di orbit rendah umumnya dirancang untuk terbakar habis di atmosfer saat masuk kembali ke gravitasi bumi.Namun, material tertentu mungkin tidak habis terbakar karena lebih tahan panas dan mencapai permukaan Bumi.