Aspek konsumsi juga menjadi perhatian serius. Sumber air harus tertutup rapat, dan masyarakat dilarang mengonsumsi makanan yang telah terpapar abu. Jika muncul keluhan kesehatan seperti gangguan pernapasan atau iritasi, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

"Kami meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau diharapkan dipantau melalui informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan kanal resmi pemerintah," tuturnya.

Syamsul menekankan pentingnya ketenangan dalam menghadapi situasi ini. "Tetap tenang, tetap waspada, dan utamakan keselamatan diri serta keluarga," tegasnya.

Dampak sebaran abu ini mulai dirasakan nyata oleh warga di Kecamatan Sumber. Muhyidin, salah satu warga setempat, mengaku mendapati material debu yang berbeda dari biasanya saat membersihkan rumah. Debu tersebut berwarna lebih gelap dan memiliki tekstur pekat.

"Banyak debu tapi enggak seperti biasanya. Kalau sekarang warnanya hitam pekat," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi udara menjadi tidak nyaman karena angin kencang membawa material tersebut masuk hingga ke dalam ruangan. "Abunya juga sampai ke dalam rumah, apalagi sekarang lagi angin kencang juga," bebernya.

Sebagai langkah antisipasi mandiri, Muhyidin rutin menyiram area depan rumahnya dengan air dari pagi hingga malam hari guna menekan debu agar tidak beterbangan. "Pagi, siang, sore sama malam saya siram bagian depan rumah supaya debunya tidak beterbangan," ujarnya.