NADIKABAR.COM — Bagaimana dunia mengetahui kabar letusan Krakatau 1883 ketika internet belum ditemukan? Ternyata, bencana dahsyat yang terjadi di Hindia Belanda itu menjadi salah satu peristiwa pertama yang beritanya dapat menyebar ke berbagai belahan dunia dengan sangat cepat.

Gunung Krakatau meletus dahsyat pada 26 Agustus 1883. Letusannya menjadi salah satu bencana alam terbesar pada abad ke-19, menewaskan sekitar 36.000 orang dan memicu tsunami raksasa.

Namun, ada hal lain yang membuat peristiwa Krakatau 1883 begitu penting dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, letusan gunung berapi besar dapat diketahui masyarakat di berbagai negara hampir bersamaan dengan terjadinya bencana.

Hal tersebut dimungkinkan berkat perkembangan teknologi komunikasi pada masa itu, terutama kode Morse, kabel telegraf bawah laut, serta jaringan kantor berita yang mulai berkembang.

Letusan Krakatau 1883 terjadi pada era ketika komunikasi jarak jauh sedang mengalami perubahan besar.

Jaringan kabel telegraf bawah laut telah menghubungkan berbagai wilayah di dunia. Pesan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk dikirim melalui kapal atau surat, dapat diteruskan dalam waktu jauh lebih singkat.

Profesor Nick Petford dari Fakultas Ilmu Bumi dan Geologi di Kingston University, London, menyebut letusan Krakatau sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah komunikasi.

"Ini adalah pertama kalinya gunung berapi meletus dan langsung diketahui saat itu juga. Kabel telegraf bawah laut merupakan jaringan komunikasi yang menjadi cikal bakal internet," katanya.

Teknologi tersebut membuat kabar mengenai letusan Krakatau dapat bergerak dari satu stasiun telegraf ke stasiun lainnya hingga menyeberangi benua.

Salah satu pesan awal mengenai letusan Krakatau berasal dari agen Lloyd's, perusahaan finansial Inggris yang memiliki pemantau bencana di berbagai wilayah.

Agen tersebut melihat semburan api dari puncak Krakatau dan mengirimkan pesan singkat:

"Letusan gunung berapi yang kuat, Pulau Krakatowa."

Pesan itu kemudian dikirim melalui jaringan kabel telegraf. Meskipun jaringan di sekitar wilayah bencana kemudian terputus akibat tsunami, informasi tersebut sudah berhasil mencapai Batavia.

Dari Batavia, pesan diteruskan menuju Singapura. Setelah itu, informasi bergerak melalui jaringan telegraf menuju Madras, Trincomalee, Kolombo, dan Bombay.