Letusan tersebut juga menyemburkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke angkasa. Gas panas dan material vulkanik kemudian menyapu wilayah sekitar dengan kecepatan tinggi.

Namun, tsunami menjadi salah satu penyebab utama tingginya jumlah korban. Gelombangnya mencapai sekitar 40 meter dan bahkan mampu membawa bongkahan terumbu karang dengan berat mencapai 600 ton ke daratan.

Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya membuat berita Krakatau tersebar lebih cepat. Peristiwa tersebut juga membantu mendorong lahirnya kajian ilmiah modern mengenai letusan gunung berapi.

Ilmuwan Belanda Rogier Verbeek datang ke wilayah terdampak dan mencatat berbagai kondisi setelah bencana. Laporannya kemudian menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai letusan Krakatau.

Tim ahli geologi dari Royal Society di London juga melakukan penelitian setelahnya.

Dari berbagai penelitian tersebut diketahui bahwa sebagian besar Pulau Krakatau hancur akibat letusan. Namun, setelah bencana, sejumlah pulau baru terbentuk.

Salah satunya kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau, yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik Krakatau dan terus bertahan hingga sekarang.

Krakatau dan Awal Era Informasi Global

Sebelum Krakatau, dunia sebenarnya sudah pernah mengalami letusan gunung api besar, seperti Tambora dan Toba di wilayah Hindia Belanda, serta Santorini, Hekla, dan Mazama.

Namun, peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika jaringan komunikasi global belum berkembang seperti pada 1883.

Krakatau hadir pada momentum yang berbeda. Kode Morse sudah digunakan, jaringan kabel telegraf bawah laut telah menghubungkan berbagai wilayah, dan kantor berita seperti Reuters memungkinkan informasi segera disebarkan kepada media.

Karena itu, letusan Krakatau 1883 bukan hanya dikenang sebagai salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah. Peristiwa tersebut juga menjadi tonggak penting dalam sejarah penyebaran informasi global.

Jauh sebelum masyarakat mengenal internet, media sosial, atau berita daring, kabar tentang sebuah gunung yang meletus di Indonesia ternyata sudah mampu menyeberangi lautan dan benua hanya dalam hitungan jam.