Apakah siswa membaca dan memahami bacaan? Apakah mereka menalar, bertanya, berdiskusi, bereksperimen, memecahkan masalah, dan merefleksikan pembelajaran?
Pertanyaan ini lebih penting daripada berapa banyak kegiatan yang tercantum dalam kalender sekolah. Sebab, mutu pendidikan pada akhirnya diproduksi di ruang kelas.
Sekolah tidak harus menunggu gedung baru, teknologi terbaru, atau kebijakan baru. Perubahan dapat dimulai dengan mekanisme sederhana.
Guru merefleksikan pembelajaran. Kelompok guru membahas hasil pekerjaan siswa. Kepala sekolah membaca data. Sekolah menentukan prioritas. Tindakan dilakukan. Hasilnya dievaluasi.
data → diagnosis → refleksi → tindakan → evaluasi → perbaikan.
Jika kemampuan membaca siswa rendah, sekolah tidak cukup menyimpulkan bahwa literasi rendah. Sekolah harus bertanya: keterampilan apa yang lemah? Pada kelompok siswa mana? Apa yang terjadi dalam pembelajaran? Apakah bahan bacaan memadai? Apa yang harus diubah?
Demikian pula dengan numerasi. Rendahnya kemampuan numerasi tidak otomatis berarti siswa tidak pandai matematika. Persoalannya mungkin terletak pada kemampuan memahami soal, strategi pembelajaran, atau kurangnya pengalaman menggunakan matematika dalam konteks kehidupan nyata.
Data baru bermakna jika mengubah cara sekolah bertindak.
Kita patut belajar dari sistem pendidikan yang berhasil, termasuk Singapura dan Jepang. PISA 2022 menunjukkan keduanya berada dalam kelompok dengan capaian tinggi.
Namun, yang perlu dipelajari bukan sekadar hasil akhirnya. Yang lebih penting adalah mekanisme di belakangnya: bagaimana guru dipersiapkan, bagaimana pengembangan profesional berlangsung, bagaimana sekolah dipimpin, bagaimana data digunakan, dan bagaimana budaya perbaikan dibangun.
Indonesia tentu tidak bisa menyalin sistem negara lain. Kondisi sosial, budaya, geografis, dan demografis kita berbeda.
Tetapi kita juga tidak perlu selalu mencari contoh ke luar negeri. Indonesia memiliki banyak sekolah yang berhasil memperbaiki pembelajaran dalam keterbatasan.
Sekolah-sekolah tersebut jangan hanya diberi penghargaan. Pelajari cara kerjanya.
Kepala sekolah belajar dari kepala sekolah. Guru belajar dari guru. Pengawas menjadi fasilitator pembelajaran antarsekolah. Praktik baik tidak berhenti sebagai cerita sukses, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan disesuaikan oleh sekolah lain.