Pada akhirnya, perubahan sekolah sangat bergantung pada kepemimpinan. Kepala sekolah bukan hanya pengelola administrasi. Ia harus mengetahui apa yang terjadi di kelas, memahami data hasil belajar, mengembangkan guru, membangun budaya refleksi, dan menentukan prioritas.

Sekolah tidak mungkin memperbaiki semuanya sekaligus. Pilih dua atau tiga masalah paling penting. Misalnya kemampuan membaca, numerasi, dan kualitas pembelajaran.

Kemudian seluruh sumber daya diarahkan ke sana. Rapat guru, supervisi, pelatihan, anggaran, dan evaluasi harus memiliki hubungan dengan prioritas tersebut.

Dengan demikian, sekolah tidak sekadar melaksanakan program, tetapi mengelola perubahan.

Pendidikan Indonesia tidak kekurangan guru baik, sekolah inspiratif, data, atau gagasan. Yang perlu diperkuat adalah sistem yang membuat semuanya bekerja secara konsisten.

Data harus terhubung dengan keputusan. Pelatihan terhubung dengan praktik kelas. Demikian juga supervisi dan anggaran terkait dengan pengembangan guru, maupun prioritas pembelajaran.

Karena itu, kita tidak selalu membutuhkan program baru. Kita membutuhkan disiplin baru: disiplin membaca data, menentukan prioritas, menghentikan kegiatan yang tidak berdampak, mengembangkan guru, dan memperbaiki pembelajaran secara terus-menerus.

Transformasi sekolah tidak harus dimulai dari proyek besar. Ia dapat dimulai dari satu kepala sekolah, satu kelompok guru, bahkan satu kelas.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu apa yang harus diperbaiki. Kita sudah tahu cukup banyak.

Pertanyaan sebenarnya, yakni apakah kita berani mengubah cara kerja sekolah?

Jika jawabannya ya, transformasi sekolah sebenarnya tidak sulit.

Yang sulit bukan mengetahui apa yang harus dilakukan, melainkan konsisten melakukannya sampai perubahan benar-benar terjadi pada diri peserta didik.

*) Odemus Bei WitonoDirektur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi NadiKabar.com