Ia menyebut sejumlah merek yang diproduksi di sektor tersebut antara lain Puma, Adidas, dan Nike untuk produk sepatu, serta Uniqlo, Ralph Lauren, dan H&M untuk produk garmen.
Menurut Said, penurunan daya beli masyarakat internasional menjadi salah satu penyebab perusahaan mengurangi kegiatan produksi hingga menutup pabrik. Kondisi tersebut turut dipengaruhi konflik Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang berdampak pada kenaikan harga gas industri serta bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, fluktuasi nilai tukar dolar AS dan melemahnya permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor, seperti Inggris, Prancis, Italia, dan Singapura, ikut menekan penjualan produk bermerek.
"Karena daya beli masyarakat internasional turun. Akibat perang Iran, Amerika dan Israel, sehingga harga gas industri dan BBM naik. Kemudian fluktuasi mata uang dolar juga berpengaruh. Daya beli masyarakat di negara-negara tujuan seperti London, Paris, Milan, dan Singapura juga turun," jelasnya.
Said menambahkan PHK juga terjadi di sektor yang berorientasi pasar domestik. Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat di dalam negeri turut memengaruhi kegiatan usaha, meskipun tekanan terbesar yang ia temukan berada di industri berorientasi ekspor.
Said turut menyoroti PHK di dua perusahaan, yakni PT Parkland World Indonesia (PWI) 6 di Lebak, Banten, dan PT Ghim Li Indonesia di Batam, Kepulauan Riau.
Ia menyebut sekitar 1.170 pekerja Ghim Li terkena PHK. Said mengaku akan mendatangi perusahaan tersebut karena belum mendapat kejelasan mengenai pemenuhan hak pekerja, termasuk apakah perusahaan akan membayar pesangon atau mempekerjakan kembali karyawan.
Sementara itu, penutupan PWI 6 di Lebak turut berdampak pada pekerjanya. Said menjelaskan grup PWI sebelumnya memiliki enam pabrik di Indonesia, tetapi kini hanya tersisa dua lokasi, yakni PWI di Serang dan PT Parkland World Indonesia Jepara (PWJ). Pabrik di Jepara disebut masih mempekerjakan sekitar 8.000 orang.