"Mayoritas kondisi mereka saat ini sudah membaik signifikan. BGN berkomitmen penuh melakukan evaluasi total pada aspek higienitas dan standardisasi ketat di setiap satuan pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Hening.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan Dinas bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus serta investigasi terhadap laporan keluhan kesehatan pada penerima MBG yang diproduksi SPPG Wonokerto, Turi.

"Keluhan gejala yang dilaporkan paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, disusul mual, sakit kepala, lemah, dan muntah," kata Khamidah.

"Penanganan medis sampai dengan pembaruan pukul 20.30 WIB (Senin), terdapat satu pasien rawat inap di RSUD Sleman, 19 orang menjalani rawat jalan, 7 orang berobat mandiri, dan 9 orang tidak menjalani pengobatan," sambungnya.

Khamidah menjelaskan, kasus dugaan keracunan ditemukan pada beberapa satuan pendidikan di wilayah Turi, dengan jumlah terbanyak berada di SMPN 3 Turi. Hasil investigasi sementara analisis epidemiologi terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik.

"Belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Salah satu menu, yaitu bola-bola sapi goreng, menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi. Hal tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian," ujar Khamidah.

"Pemeriksaan laboratorium sampel makanan dan air telah diambil dan dikirim ke laboratorium pada 7 September 2026. Hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu," imbuhnya.