Menurut Ilham, kita tidak mungkin bisa menciptakan chip, komputer, data center, atau AI secara independen. Ia mengatakan jika kedaulatan diartikan demikian, maka kedaulatan jelas merupakan sesuatu yang utopis.
"Tidak mungkin dan tidak perlu, yang lebih mungkin adalah kita mencari jalan keluar di mana kita bisa mengurangi dan meniadakan ketergantungan yang strategis yang kritis seperti itu," tegasnya.
Terkait kedaulatan digital, Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan keamanan dan pilihan untuk berdaulat serta independen dimulai sejak memilih produk teknologi itu sendiri. Menurutnya, penting untuk memilih pemasok yang menerapkan prinsip keamanan sejak fase desain produk.
Nora menjelaskan, risiko jaringan dan risiko keamanan lainnya umumnya disebabkan oleh produk itu sendiri. Dalam hal ini, pencegahan dapat dilakukan dengan segmentasi data, mana data yang terbuka dan yang sensitif.
Ia menjelaskan kedaulatan dapat dimulai dengan melakukan diversifikasi produk dari berbagai pemasok terpercaya yang berbeda-beda. Hal ini dilakukan karena memusatkan semua data hanya kepada satu pemasok lebih berisiko mengakibatkan ketergantungan.
"Tentukan apa saja yang bersifat krusial, tetapkan aspek apa yang harus tetap berada di dalam negeri, lakukan diversifikasi rantai pasok, patuhi standar yang berlaku, dan pilih supplier yang sejak awal terbuka terhadap aspek keamanan dan standar tersebut," jelasnya.
Seiring perkembangan AI dan digitalisasi, Nora juga menekankan perlunya peningkatan keahlian serta syarat dan standar keamanan bagi teknologi-teknologi untuk mencapai kemajuan pemberdayaan digital.
"Tidak perlu membangun segalanya dari nol di sini. Mungkin ini adalah hal yang sempat disinggung oleh beberapa dari kita. Sangat wajar, bahkan sangat dianjurkan pemanfaatan experience dari negara lain yang sudah lebih dulu melangkah daripada kita," tutur Nora.