Rido menjelaskan Telkomsel juga memanfaatkan AI untuk mendeteksi karakter pelanggan dan kondisi jaringan pada waktu atau lokasi tertentu.
"Jadi bagaimana kita mendeteksi karakter pelanggan, bagaimana kita mendeteksi keramaian jaringan di mode tertentu gitu ya, seperti pergi pulang kerja atau tadi ada konser gitu ya, bagaimana kita bisa mengoptimalkan pelanggan-pelanggan tadi menggunakan AI kita," jelasnya.
Ia juga memberikan gambaran penggunaan AI dan 5G dalam aktivitas sehari-hari. Pengguna cukup mengunggah foto ke AI menggunakan jaringan 5G untuk mendapatkan hasil dengan lebih cepat.
"Ini cukup foto, upload ke AI dengan jaringan 5G Telkomsel gitu ya, kita ketik prompt, jadi. Langsung kita kirim, enggak nyampe 5 menit prosesnya gitu ya," ungkap Rido.
Bagi Oza, kebutuhan utama dalam aktivitasnya sebagai konten kreator adalah koneksi yang stabil, terutama ketika mengirim file berukuran besar.
"Saya mungkin lebih butuh stabilitasnya harapannya ya," ujar Oza.
Ia juga merasakan manfaat AI dalam pembuatan konten karena proses yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama dapat dilakukan dengan bantuan AI.
"Memangkas waktu lumayan. Bisa jadi beberapa jam doang udah bisa beres satu video gitu," tuturnya.
Sementara itu, Abi mengatakan koneksi menjadi hal pertama yang diperiksa sebelum melakukan live streaming. Sebagai streamer yang melakukan multi-streaming, ia membutuhkan bandwidth cukup besar.
"Kurang lebih 500 Mbps. Itu untuk live streaming-nya aja," kata Abi.
Rido mengatakan tambahan spektrum dapat membantu memenuhi kebutuhan bandwidth tersebut. Ia menyebut teknologi 2600 yang diperoleh melalui tambahan spektrum dapat memberikan kapasitas di atas 1 Gbps.
"Kebutuhannya Mas Abi tadi di 500 Mbps kalau sendirian gitu ya, kalau sendirian itu harusnya terlayani gitu ya dengan baik," jelas Rido.
Para narasumber juga menyoroti pentingnya pemerataan jaringan 5G. Agus berharap pengalaman menggunakan konektivitas cepat dan stabil dapat dirasakan masyarakat di berbagai daerah.