NADIKABAR.COM — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) memberikan pelatihan pengelolaan peternakan ayam petelur di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, untuk meningkatkan produksi telur dan memperkuat ekonomi masyarakat desa.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Unair di Parigi Moutong Emy Koestanti Sabdoningrum mengatakan pendampingan dilakukan untuk membantu peternak meningkatkan kemampuan mengelola ternak secara berkelanjutan.

"Langkah ini bertujuan mengawasi produktivitas ayam yang diberi pakan lokal," kata Emy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Sebagai tindak lanjut, tim telah menyusun tiga modul panduan mengenai pengolahan tepung ikan, manajemen ayam buras, dan biosekuriti kandang untuk mendukung penerapan hasil pelatihan secara mandiri.

Tim juga melakukan pendampingan di empat lokasi desa untuk memantau pemeliharaan ayam dan membiasakan peternak melakukan pencatatan produksi.

Emy turut mendorong penguatan kelompok ternak unggas di setiap desa sebagai wadah kerja sama peternak sekaligus memudahkan akses terhadap program pendampingan dan bantuan pemerintah.

"Meski nanti ekspedisi kami telah usai, pengabdian tidak boleh berhenti," ujar Emy.

Berdasarkan publikasi resmi Unair pada 30 Oktober 2026, tim telah menyelenggarakan dua kegiatan pelatihan, yakni manajemen ayam buras petelur dan biosekuriti kandang di Desa Tinombala Jaya, serta pengolahan tepung ikan di Desa Palapi, Kecamatan Taopa.

Tim juga mengembangkan pemanfaatan bahan lokal, seperti ikan rucah, jagung, dan bekatul, sebagai alternatif pakan ayam untuk membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.

Kepala Desa Tinombala Jaya Samsuri dan Kepala Desa Tinombala Sejati Mudawam menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai membantu warga memahami pengelolaan peternakan dan pencegahan penyakit ayam.

Pelatihan dalam program Kementerian Transmigrasi tersebut diarahkan untuk menekan risiko kematian ayam akibat penyakit, memperbaiki pengelolaan usaha, serta meningkatkan keterampilan peternak dalam memanfaatkan sumber daya lokal.

"Programnya sangat inovatif dan ramah lingkungan sehingga kami bisa memanfaatkan alam sekitar yang sudah tersedia untuk ayam-ayam agar lebih sehat," kata warga Desa Tinombala Jaya, Kecamatan Ongka Malino, Akbar Kurniati,

Akbar mengaku memperoleh pengetahuan mengenai manajemen usaha, biosekuriti, dan sanitasi kandang yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus mendukung produktivitas usaha.

Dalam pelatihan tersebut, Tim Unair menekankan tiga faktor penting dalam pengelolaan peternakan, yakni pemilihan bibit unggul, penyediaan pakan sesuai kebutuhan, dan manajemen kandang.

Peternak juga diajarkan penerapan biosekuriti sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit, antara lain memisahkan ayam sakit, mengelompokkan ternak berdasarkan umur, membersihkan tempat pakan, serta membatasi akses orang luar ke kandang.

Selain itu, peserta mendapat pembekalan mengenai pencatatan usaha agar dapat memantau kebutuhan pakan, kondisi kesehatan ternak, perkembangan produksi, dan biaya pemeliharaan secara lebih teratur.

Peternak asal Desa Tinombala Jaya, Agus Suseno, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pengelolaan kandang, pemberian pakan, pemeliharaan kesehatan ayam, serta pencatatan kegiatan usaha.

Sementara itu, Kementerian Pertanian dalam proyeksi Oktober 2026 memperkirakan produksi telur ayam ras nasional sepanjang tahun mencapai 7,16 juta ton, melampaui kebutuhan sekitar 6,84 juta ton, dengan potensi surplus sebesar 4,71 persen dari kebutuhan.

Kementerian Transmigrasi pada 30 Juli 2026 melepas sebanyak 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim untuk menjalankan program pemberdayaan dan pengembangan potensi ekonomi di 53 kawasan transmigrasi.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menegaskan TEP 2026 diarahkan menghasilkan kegiatan nyata sebagai tindak lanjut pemetaan potensi ekonomi yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

"Yang membedakan tahun lalu dengan tahun ini adalah tidak hanya riset dan pemetaan potensi ekonomi, tetapi mereka juga melakukan aksi nyata," kata Iftitah.

Melalui penguatan keterampilan, pemanfaatan bahan pakan lokal, dan kelembagaan peternak, program tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi telur sekaligus memperluas kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi.