Kawanan monyet tersebut menyatroni lahan warga untuk menyantap buah-buahan atau biji-bijian yang ditanam petani. Biasanya, monyet liar ini muncul saat musim kemarau ketika ketersediaan pangan di dalam hutan mulai menipis. Akibatnya, hasil pertanian menurun drastis hingga memicu gagal panen.
"Kalau hama monyet dari sudah berbunga duren itu sudah dijambretan bunganya tuh. Jadi akhirnya menyebabkan gagal panen. Kalau kena hama monyet ya sudah jadi paling 2 kuintal atau 3 kuintal. Padahal dulu bisa sampai 5 kuintal. Nggak nutup buat biaya panen juga. Sedangkan kan kita punya istri, punya anak sekolah," tutur Dedi.
Dedi memaparkan bahwa jika kawanan monyet sudah menyerang, para petani tidak bisa berbuat banyak. Menurutnya, berbeda dengan hewan liar lain, monyet merupakan hama yang paling sulit diatasi. Selain monyet, keberadaan babi hutan dan burung juga menjadi ancaman nyata bagi petani di lereng Gunung Ciremai.
"Susah. Nggak bisa diatasi. Jadi paling ditunggu tuh, karena di sini kalau siang babi dan monyet, burung malam hari ke lahan tani warga. Aduh, agak susah tani juga di sini," tutur Dedi.