Selain hama, kendala lain yang menghantui adalah karhutla yang apinya kerap merambat ke perkebunan warga. Di musim kemarau, lahan di lereng Gunung Ciremai memang sangat mudah terbakar. Kondisi ini diperparah dengan embusan angin kencang yang mempercepat perambatan api ke lahan garapan.

"Sering, sering saya menangani kebakaran. Menanganinya dulu mah paling gebugin pakai ranting karena kan tidak ada air. Seadanya saja, tapi yang efektif agar tidak menyebar. Karena kalau kebakaran menyebar, merugikan kita juga sebagai petani bisa ke lahan warga. Soalnya pernah lahan kebakaran, itu bisa gagal panen," tutur Dedi.

Senada dengan Dedi, petani lain di lereng Gunung Ciremai, Radi (70), juga mengeluhkan hal serupa. Sebagai warga yang sudah puluhan tahun bertani, ia menganggap hama monyet dan kebakaran hutan sebagai momok utama. Meski sulit diatasi, Radi berharap populasi kawanan monyet tersebut dapat dikendalikan oleh pihak terkait.

"Nggak terkendali. Makanya itu hama yang musuh hama yang paling sulit di sini paling susah. Harapannya pengennya sih aman saja. Kalau ketemu api yang kita pakai daun daun hijau buat matinya untuk sementara agar tidak menyebar," pungkas Radi.