NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji rival politiknya setelah berhasil meraih kemenangan dalam Pemilu Paruh Waktu atau Pemilu Sela AS. Presiden AS tersebut mengatakan perang Iran mungkin turut berpengaruh dalam kekalahan partai yang Republik yang dipimpinnya.
Trump menolak menyalahkan kebijakannya yang digagas selama dua tahun kepemimpinan sebagai alasan menyusutnya dukungan akan Partai Republik.
"Selamat kepada Partai Demokrat. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik," kata Trump dalam wawancara telepon dengan FOX News.
"Mereka telah menanti-nantikan hal ini selama 11 tahun, dan mereka mendapatkannya. Tapi saya tidak menganggapnya sebagai serangan terhadap saya," kata Presiden AS tersebut.
Komentar tersebut dilontarkannya setelah menghabiskan sebagian besar masa kampanye dengan melabeli lawan politiknya, Partai Demokrat, sebagai komunis hingga Islamis. Trump juga menegaskan kembali bahwa, ia menerima hasil pemungutan suara dan siap bekerja sama dengan Partai Demokrat sekarang setelah mereka menguasai Kongres, tidak seperti kekalahannya dalam pemilihan presiden 2020.
Namun Trump memperingatkan bahwa ia siap menggunakan kewenangan eksekutifnya untuk memveto undang-undang Partai Demokrat. "Mereka bisa mengirimkan 50 rancangan undang-undang hebat yang berbeda yang mereka semua antusiaskan, dan saya akan mengembalikannya dengan cap veto.'"
Jelang pemilu, jejak pendapat menyebutkan bahwa konflik berkepanjangan dengan Iran menyebabkan kenaikan harga energi. Hal ini menuai ketidak puasan akan kebijakan Trump di kalangan pemilih. Trump mengakui konflik Iran yang stagnan tersebut turut andil dalam hasil pemilu, "Saya pikir sebagian alasannya adalah Iran, tetapi di saat yang sama, orang-orang memahami hal penting yang telah saya lakukan terkait Iran," kata Trump kepada Fox.
Kekalahan Partai Republik membuat Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat. Situasi ini berpotensi membatasi ruang gerak Trump selama dua tahun terakhir masa jabatan keduanya. Namun, Gedung Putih memberi sinyal bahwa pemerintahan Trump tidak berniat mengubah arah kebijakannya secara signifikan.
Sejumlah pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Iran tetap menjadi perhatian utama presiden. Di Washington juga berkembang spekulasi bahwa Trump dapat mempertimbangkan langkah militer lebih lanjut terhadap Teheran, meskipun konflik tersebut telah menjadi sumber perdebatan di kalangan pemilih.
Salah satu pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa para pemilih yang mendukung Partai Demokrat akan menyesali pilihannya jika situasi di Iran membaik dan harga bahan bakar turun setelah konflik berakhir. Pejabat yang sama juga menegaskan bahwa Trump akan tetap berupaya melawan apa yang disebutnya sebagai "sayap kiri radikal" terlepas dari hasil pemilu.
Sementara itu, negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pada Rabu bahwa rakyat Amerika memilih "Tidak untuk perang" setelah Partai Demokrat mengalahkan Partai Republik secara telak dalam pemilihan sela. Partai Demokrat berhasil menguasai sepenuhnya Kongres AS melalui kemenangan telak yang mengejutkan, menjadi pukulan keras bagi Presiden Donald Trump dan partainya.
Ia memperingatkan bahwa apabila pemerintah AS mengabaikan kehendak rakyat dan melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap Iran, Teheran akan tetap mempertahankan sikap perlawanannya.
"Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyat demi melayani para pemegang kekuasaan, mereka akan menyadari bahwa penolakan kami akan disertai dengan konsekuensi."
Perang tersebut, yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada bulan Februari 2026, telah berada dalam kebuntuan selama berbulan-bulan, diselingi oleh pertempuran sporadis di tengah kekhawatiran pecahnya konflik dalam skala penuh.
Pada hari pencoblosan, Presiden Trump mendadak mengumumkan bahwa AS akan menghentikan bantuan tahunan senilai $3,8 miliar (Rp68,9 triliun) untuk Israel. Bantuan tersebut sebelumnya dialokasikan untuk pembelian persenjataan dan peralatan militer AS.
Oleh sejumlah kandidat Partai Demokrat, bantuan Israel acap dikampanyekan sebagai pemborosan anggaran negara, yang sebenarnya dibutuhkan oleh warga AS. Bantuan militer yang kini dihentikan bukan dibuat di era Trump, melainkan kelanjutan dari kebijakan presiden-presiden terdahulu.
"Kami memberikan $4 miliar per tahun kepada Israel, dan beberapa bulan lalu kami telah menyepakati untuk menghentikannya," kata Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News. Trump menambahkan bahwa PM Israel, Benjamin Netanyahu tidak keberatan akan keputusan tersebut.
"Israel adalah negara yang sangat makmur, mereka tidak membutuhkannya," jelas Trump.
Pengumuman tersebut muncul tak lama setelah pemilihan parlemen di Israel berlangsung, yang belum menghasilkan kepastian akan pembentukan pemerintahan mayoritas.
Selama beberapa dekade, Israel adalah penerima bantuan luar negeri terbesar dari AS. Menurut Council on Foreign Relations, sejak berdirinya negara tersebut pada 1948, Israel telah menerima lebih dari US$300 miliar (sekitar Rp5,4 kuadriliun) dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer dari Washington, jumlah yang melampaui negara penerima bantuan AS lainnya dalam periode yang sama.
Meski demikian, Netanyahu sebelumnya beberapa kali menyatakan keinginannya agar Israel secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada bantuan Amerika. Dalam wawancara dengan CBS pada Mei lalu, ia mengatakan bahwa pada akhirnya Israel ingin dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada dukungan finansial dari AS.
Hingga kini belum jelas kapan penghentian bantuan tersebut akan mulai diberlakukan maupun bagaimana mekanisme pengakhiran program bantuan yang telah menjadi salah satu pilar hubungan strategis AS-Israel selama beberapa dekade terakhir.
Pengumuman penghentian bantuan tersebut juga muncul di tengah kembali meningkatnya ketegangan perang melawan Iran. Pada Senin malam, militer AS kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas pertahanan udara Iran, sebagaimana dikonfirmasi Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa.
"Mereka membangun fasilitas pertahanan udara... Begitu selesai dibangun, kami langsung menyerangnya tadi malam dengan sangat tepat," kata Trump dalam acara "Fox & Friends", sembari menambahkan bahwa itu adalah "serangan kecil".
Menurut keterangan pejabat AS, pasukan Iran sebelumnya menembakkan rudal ke arah pesawat militer Amerika. Washington menyebut serangan ke Pulau Qeshm sebagai tindakan defensif untuk mengurangi ancaman terhadap militer AS di kawasan Selat Hormuz.
Serangan terjadi terjadi beberapa jam setelah Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Teheran bisa terwujud. Menanggapi serangan tersebut, Iran kembali memperingatkan bahwa tidak ada pihak yang akan diuntungkan jika perang kembali berkobar. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Teheran tetap bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi.
"Saya siap, kami siap. Kami sudah siaga dan siap bertindak jika perlu, tapi mungkin tidak ada alasan untuk itu," ujar kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyatakan Teheran tetap memiliki hak atas "pertahanan diri yang sah" setelah serangan tersebut.
Perkembangan ini menambah tekanan politik terhadap Trump di tengah pemilu sela AS, terutama ketika perang Iran dan dampaknya terhadap perekonomian domestik menjadi salah satu isu yang disorot pemilih.