Setelah dikumpulkan, sampah-sampah tersebut difungsikan dan diolah berdasarkan jenisnya. Untuk sampah organik umumnya akan diolah menjadi kompos. Namun, sampah berupa daun akan dipilih-pilih kembali sebagai bahan ecoprint.

Ecoprint sendiri merupakan teknik pemberian motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami, salah satunya daun. Produk ecoprint yang dibuat Bank Sampah Kresek Indah berupa tas, selendang, hingga baju.

Sementara itu, sampah botol plastik dan bekas kemasan akan diolah menjadi kerajinan tangan, misalnya aksesoris, tikar, hingga tas.

"60 nasabah yang emang betul-betul mengikuti pelatihan. Mereka itu sudah bisa membuat tikar, terus seperti kayak botol-botol dibuat kayak aksesori," ucap Asmawiyah.

Dari berpartisipasi untuk pemilahan, mendaftar menjadi nasabah, hingga ikut mengolah, partisipasi warga menjadi faktor krusial dalam kegiatan bank sampah. Asmawiyah pun mengungkapkan strateginya untuk menghimpun para warga. Salah satunya adalah dengan mengajak mereka untuk duduk bersama.

"Hasil dari duduk bareng ini kita tahu keluhan warga atau masyarakat itu kenapa mereka milah sampah dan ada juga yang tidak milah sampah," katanya.

Edukasi lalu dilakukan untuk membantu warga yang belum paham atau kesulitan dalam memilah dan mengolah sampah. Kemudahan mengakses informasi soal sampah juga diberikan melalui media sosial seperti Facebook dan media cetak seperti brosur.

Lebih dari itu, upaya memperkuat kerekatan hubungan warga dengan bank sampah adalah dengan membentuk kelompok di bawah bank sampah, seperti Kelompok ASKHA.

"Kelompok ASKHA ini ibu-ibu, istrinya nelayan. Emang kalau istri-istri nelayan ini kan jarang tersentuh sama kelurahan, jadi bagaimana caranya [kelompok] ini [membuat] wanita-wanita ini berdaya," ucap Asmawiyah.

Sebanyak 25-30 nasabah bank sampah yang tergabung dalam kelompok ini dapat melakukan simpan pinjam uang. Uang tersebut nantinya dapat mereka gunakan untuk berbagai kebutuhan, dari mulai alat-alat sekolah anak hingga modal usaha.