Sementara itu, SanGreat dari Institut Pertanian Bogor dan Colorfood Indonesia dari Universitas Diponegoro masih menjajaki peluang kontak dagang dengan calon buyer internasional. Produk yang menarik minat calon buyer cukup beragam, mulai dari kakao, kayu manis, gula aren, minyak kelapa murni, hingga produk turunan kelapa seperti arang dan karbon aktif.
Selain produk berbasis komoditas, UKM Campuspreneur juga menawarkan produk bernilai tambah dan jasa. Beberapa di antaranya meliputi pengendali hama berbahan alami dan platform edukasi digital.
"Keragaman tersebut memperlihatkan potensi inovasi usaha berbasis perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional," kata Busan.
Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, Kemendag memfasilitasi 25 UKM dari 20 perguruan tinggi mitra. Para peserta UKM Campuspreneur di TEI ke-41 telah melalui proses kurasi dari 80 UKM berpotensi ekspor. Peserta mencakup usaha yang dikembangkan mahasiswa, alumni, dosen, maupun UKM binaan perguruan tinggi.
Capaian UKM Campuspreneur pada TEI ke-41 tersebut didukung persiapan peserta sebelum mengikuti pameran. Para peserta telah melalui pelatihan teknik ekspor, pengembangan dan desain ulang produk, serta fasilitasi penjajakan kerja sama bisnis (business matching). Upaya ini ditujukan agar peserta siap memperkenalkan produk dan membangun komunikasi bisnis dengan buyer.
"Partisipasi dalam pameran dagang internasional perlu didukung kesiapan pelaku usaha, baik dari sisi pemahaman ekspor, kualitas dan desain produk, maupun kemampuan menjalin komunikasi bisnis dengan calon buyer. Campuspreneur mempersiapkan UKM untuk memanfaatkan TEI dalam memperkenalkan produk dan membangun peluang kerja sama," ujar Puntodewi.