"Di KBRI Beijing, kami mengubah nama fungsi Penerangan dan Sosial Budaya menjadi fungsi Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Diplomasi Publik (PEKDP), sebagai salah satu yang pertama dari KBRI lainnya," kata Dubes Djauhari.

Dubes Djauhari menyebut di China, pemerintah dan pelaku usaha bergerak bersama untuk mendukung industri kreatif mulai dari promosi dan aksi pasar, sampai informasi tentang tren, teknologi hingga pembiayaan.

"Kalau China punya dracin atau drama China, bagaimana kalau Indonesia punya dra-in atau drama Indonesia karena Indonesia jago 'storytelling'. Kemudian disektor gim, pada semester pertama tahun ini sana nilai penjualan gim Indonesia sudah mencapai 26,3 miliar dolar AS dengan engguna mencapai 680 juta," jelas Dubes Djauhari.

Dubes Djauhari pun menyebut produksi drama atau gim dengan akar cerita Indonesia dan berkolaborasi dengan kemampuan produksi Tiongkok dapat menjadi salah satu contoh kolaborasi.

Laporan dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mencatat bahwa sektor ekonomi kreatif berkontribusi sebesar Rp1.757 triliun atau 6,86 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2025 dengan sektor terbesar adalah kuliner (Rp721,8 triliun).

Pada tahun yang sama sektor ini tercatat menyerap 27,40 juta tenaga kerja atau 18,8 persen dari total tenaga kerja nasional.

Sedangkan total nilai ekspor barang ekonomi kreatif pada Januari-April 2026 adalah sebesar 9,99 miliar dolar AS dengan kontribusi barang fesyen mencapai 5,85 miliar dolar AS (58,55 persen dari total ekspor barang ekraf).

Jenis ekonomi kreatif yang ada di bawah Bekraf yaitu kuliner; fesyen; TV dan radio; kriya; penerbitan; aplikasi dan gim; arsitektur; periklanan; film, animasi dan video; musik; fotografi; seni rupa; desain produk; seni pertunjukan; desain interior; dan desain komunikasi visual.