Pada dasarnya, Raven dapat melanggar privasi dengan mengungkap lokasi berdasarkan foto interior. Jika foto serupa dari interior yang sama tersedia secara online dan disertai alamat dari Airbnb atau situs properti lainnya, Raven seharusnya dapat mengidentifikasi lokasi tersebut.

Dalam unggahan Heinen di LinkedIn terkait Raven, ia tidak membahas soal tantangan privasi. Ia justru menyoroti kemampuan perangkat lunak tersebut untuk menentukan lokasi gambar interior dari jutaan unit properti sewa jangka pendek di seluruh dunia.

Meski menyoroti penggunaan properti sewa jangka pendek untuk perdagangan manusia, unggahan tersebut berfokus pada keunggulan utama Raven.

"Bagi penyelidik, foto atau video dari dalam sebuah properti dapat menjadi petunjuk penting. Namun, tanpa alamat atau penanda lokasi, menentukan titik awal penyelidikan bisa menjadi sulit. Raven membantu penyelidik mencocokkan gambar interior dengan properti yang berpotensi sesuai, sehingga petunjuk visual dapat menjadi petunjuk lokasi yang bisa mereka tinjau dan verifikasi," tulis Heinen.

Agar dapat digunakan secara luas oleh lebih banyak departemen kepolisian di AS maupun di negara lain, Raven dinilai perlu mematuhi peraturan privasi yang berlaku di setiap wilayah. Perusahaan pengembangnya juga dinilai perlu menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan situs yang tampak digunakan untuk mengambil data.