Lebih lanjut, para ahli Kaspersky menyoroti risiko siber utama bagi wisatawan di Jepang. Menurut mereka, para wisatawan cenderung menggunakan layanan digital yang asing, terhubung dengan lokasi baru, dan sering kali perlu mengambil keputusan yang cepat.

Situasi ini yang kerap dimanfaatkan oleh para penjahat siber untuk mengelabui para korban.

"Saat berpergian, orang cenderung lebih fokus untuk menjelajahi tempat-tempat baru daripada memikirkan keamanan siber. Inilah yang membuat wisatawan menjadi target yang menarik: mereka menggunakan layanan digital yang asing, terhubung dari lokasi baru, dan sering kali mengambil keputusan dengan cepat," kata Peneliti Keamanan Utama di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky dalam keterangannya, Senin (19/10).

"Riset kami menunjukkan bahwa penjahat siber secara aktif memanfaatkan situasi ini," tambahnya.

Untuk menghindari kasus ini, Kaspersky mengimbau para wisatawan untuk memberikan perhatian khusus pada pengguna WiFi publik dan pencurian kredensial. Hal tersebut mengingat layanan WiFi gratis tersedia luas di bandara, hotel, kafe dan pusat perbelanjaan di seluruh Jepang.