"Yang pertama kali minta itu di Kecamatan Bungkal, di Desa Munggu. Per pekan kita mengirim 18 ribu liter air, sekali dropping 6.000 liter. Jadi setiap pekan tiga kali dropping," jelasnya.

Setelah Munggu, giliran Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, yang membutuhkan pasokan air. Di sana, terdapat lima RT dengan 56 KK atau 189 jiwa yang terdampak. BPBD memasok sekitar 19 ribu liter air setiap pekan.

Memasuki September, permintaan bantuan datang dari dua desa lainnya. Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung, memiliki 10 KK atau 35 jiwa terdampak dalam satu RT. Sementara itu, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, mencatat 28 KK atau 120 jiwa terdampak.

Untuk kedua wilayah tersebut, BPBD menyalurkan masing-masing sekitar 5.000 liter air setiap pekan.

Menurut Ismoyo, mekanisme bantuan dimulai setelah pemerintah desa mengirimkan permohonan. Petugas kemudian melakukan kaji cepat untuk menghitung kebutuhan warga di lapangan.

"Kita lihat dulu jumlah KK, jumlah jiwa, kemudian kebutuhan tandon air dan jeriken. Kalau tandonnya mencukupi, kita bisa pinjami. Kalau jerigen mereka tidak punya, kita kasihkan. Bantuan dari provinsi," terangnya.

Meski demikian, terdapat sejumlah wilayah yang biasanya menjadi langganan kekeringan, tetapi tahun ini belum mengajukan dropping air. Di antaranya Desa Wates dan Duri, Kecamatan Slahung.