NADIKABAR.COM — Pembatasan visibilitas konten atau shadowban ramai dibicarakan para pengguna media sosial beberapa waktu ke belakang. Lantas, apa itu shadowban?
Para pengguna media sosial belakangan merasa konten-konten kritik terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta isu sensitif lainnya mendapat sedikit view, like, dan komentar dibandingkan konten lainnya.
Shadowban merupakan kondisi ketika platform media sosial secara diam-diam membatasi jangkauan konten pengguna, dan biasanya tanpa sepengetahuan orang yang mempublikasikannya.
Berbeda dengan ban yang sepenuhnya memblokir akun, akun tetap aktif dan masih bisa mengunggah konten ketika terkena shadowban. Namun, konten tersebut tidak lagi direkomendasikan melalui halaman explore, feed, atau hasil hashtag dan hanya muncul bagi pengikut.
Akibatnya, jangkauan interaksi atau engagement akun tiba-tiba menurun dari biasanya.
Hal semacam itu bisa terjadi di seluruh platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, X, dan LinkedIn. Kreator konten atau pengelola akun sering kali frustasi dan mengeluhkan kondisi ini.
Melansir Kontentino, penyebabnya bisa datang dari berbagai pemicu. Misalnya, kesalahan konten tersebut seperti melanggar pedoman komunitas, disinformasi, berkualitas rendah, disertai terlalu banyak hashtag, atau menggunakan hashtag yang diblokir.
Pemicu lain mungkin bisa juga karena aktivitas akun dicurigai sebagai bot atau melakukan spam. Beberapa platform juga akan melakukan shadowban jika suatu konten dilaporkan oleh pengguna lain atau secara langsung tidak merekomendasikan topik tertentu seperti konten politik.
Durasi shadowban bervariasi untuk masing-masing platform dan jenis pelanggaran yang mereka nilai. Bisa hanya sehari, beberapa hari, dua pekan, atau beberapa pekan.
Jika engagement tiba-tiba turun dan postingan tidak muncul di hasil hashtag atau feed, akun tersebut kemungkinan terkena shadowban.
Ketika hal ini terjadi, maka stop melakukan spam, hapus konten yang dilaporkan, beri jeda antarpostingan, dan tunggu beberapa hari untuk memulihkannya.
Penelitian dari University at Buffalo mengonfirmasi adanya tindakan ini di berbagai platform medsos utama. Sebagai contoh, Instagram yang secara terbuka menyatakan bahwa mereka mengurangi jangkauan unggahan yang terlalu banyak menggunakan tagar atau terlibat dalam perilaku spam.
Selain itu, algoritma TikTok juga secara rutin membatasi distribusi konten yang ditandai sebagai berpotensi melanggar pedoman komunitasnya. Facebook mengurangi visibilitas dari apa yang diklasifikasikan sebagai "konten bermasalah," termasuk topik politik dan sosial tertentu.
Meski kondisi ini jarang disadari pengguna dan penyebabnya tidak pasti karena dilakukan tanpa pemberitahuan, pengguna dapat mengikuti tips berikut agar konten-konten yang diunggah meraih jangkauan yang normal kembali.