Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut terlalu banyak gula tambahan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit jantung.

Karena itu, mengurangi makanan dan minuman tinggi gula menjadi salah satu bagian dari pola makan yang lebih sehat, bukan sekadar tren diet.

Tidak perlu takut dengan gula alami dalam buah

Ketika mulai mengurangi gula, bukan berarti buah harus ikut dihapus dari menu.

WHO membedakan free sugars dengan gula alami yang terdapat dalam buah dan sayuran utuh. Rekomendasi pembatasan free sugars tidak ditujukan untuk gula alami yang terdapat dalam buah dan sayuran utuh.

Buah utuh justru dapat menjadi pilihan ketika ingin mengurangi camilan manis karena selain mengandung gula alami, buah juga menyediakan serat dan berbagai zat gizi.

Yang perlu lebih diperhatikan adalah makanan dan minuman dengan gula yang ditambahkan selama proses pembuatan atau penyajian.

Yang lebih penting adalah mengurangi konsumsi gula tambahan secara konsisten. Mulailah dari sumber yang paling sering dikonsumsi, terutama minuman manis, kopi atau teh dengan banyak gula, makanan penutup, permen dan camilan kemasan.

Untuk gambaran umum, WHO menyarankan free sugars berada di bawah 10 persen dari total energi harian, atau sekitar 50 gram per hari pada pola makan 2.000 kalori. Pengurangan hingga di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram per hari dapat memberikan manfaat tambahan.

Jadi, ketika ingin "stop gula", fokusnya bukan membuat tubuh sama sekali tidak mendapatkan gula. Yang lebih penting adalah mengurangi gula tambahan, tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan tidak mengganti gula dengan pola makan yang justru membuat tubuh kekurangan zat gizi penting.