NADIKABAR.COM — Perbincangan mengenai narasi mindfulness yang disuarakan di tengah situasi bencana menuai sorotan. Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, mengingatkan agar seruan untuk selalu berpikir positif di ruang publik tidak bergeser menjadi toxic positivity yang justru melukai perasaan orang lain.
dr Lahargo menjelaskan bahwa toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk selalu bersikap positif membuat emosi negatif, penderitaan, maupun realitas sulit yang dialami para korban diabaikan atau disangkal.
"Toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk selalu berpikir positif justru membuat emosi negatif, penderitaan, atau realitas sulit menjadi diabaikan, diremehkan, bahkan disangkal. Contohnya: 'Jangan sedih, harus bersyukur', 'Jangan terlalu dipikirkan, positive thinking saja', atau 'Semua pasti ada hikmahnya'. Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah, tetapi timing dan konteks sangat menentukan," ujar dr Lahargo saat dihubungi NadiKabar.com, Senin (14/9/2026).